SHARE
Pengunjung menikmati ikan di kompleks Sumber Gadung, Desa Watesnegoro, Kecamatan Ngoro. (Khudori Aliandu/radarmojokerto.id)

Di Mojokerto, masih banyak destinasi wisata di Kabupaten Mojokerto yang tersembunyi. Salah satunya kolam ikan Sumber Gadung di Desa Watesnegoro, Kecamatan Ngoro. Selain menyimpan kekayaan sejarah Majapahit, air sumber itu juga diyakini menjadi obat.

Keceriaan pengunjung sangat nampak. Mereka sangat menikmati kolam ikan Sumber Gadung. Anak-anak, remaja, hingga dewasa tumplek-blek memenuhi sekitar destinasi wisata desa itu.

Tak sekadar menikmati lokasi yang masih alami dan asri. Mereka juga asyik memberi makan ikan yang hidup bebas di kolam. ’’Asyik banget. Ikannya banyak dan besar-besar,’’ kata pengunjung.

Udara sejuk dibarengi semilirnya angin areal persawahan yang membentang membuat pengunjung semakin betah. Mereka menghabiskan waktu seharian. Ditambah lagi, panorama gunung yang menjulang tinggi dianggap mampu memanjakan mata telanjang untuk memandang.

Apalagi, di sekitar kolam ikan terdapat beberapa pepohonan rindang dan asri. ’’Kami juga bisa langsung memberi makan ratusan ikan di kolam. Pokoknya, cocok banget buat main sama keluarga. Termasuk anak-anak,’’ kata Nurul Khasanah, pengunjung lain.

Baca Juga  Diserbu Wisatawan, Air Panas Pacet Dibuka 24 Jam

Di lokasi, juga tersedia permaianan anak. Meski masih terbatas. ’’Artinya memang ini perlu sentuhan pemerintah agar lebih terawat. Dan jadi destinasi yang lebih bagus dan bersaing,’’ tambahnya. Destinasi wisata Sumber Gandung memang masih asing bagi masyarakat luas. Karena belum dikelola dengan baik atau dikomersialkan.

Namun, destinasi wisata desa yang terletak di Dusun Wates, yang merupakan tapal batas Kabupaten Mojokerto dan Watukosek, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan ini, sebenarnya menyimpan cerita rakyat.

Hal itu lantaran kolam ikan Sumber Gadung diyakini warga setempat sebagai kolam peninggalan Kerajaan Majapahit. ’’Dari nenek moyang, sumber ini sudah ada. Dan sekarang diyakini menjadi salah satu peninggalan cagar budaya Kerajaan Majapahit,’’ kata PJ Kades Watesnegoro, Arief Kurniawan.

Sehingga, jika dikaitkan dengan Kerajaan Majapahit, dulunya sesuai dengan nama desa. Desa dengan enam dusun ini merupakan batas sebuah negara (Majapahit). Desa ini dulunya juga menjadi gerbang masuk.(tim)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here