SHARE

Sebelum menjadi lokasi wisata, dulunya hanyalah hamparan sawah yang dikelola oleh para perangkat desa. Namun kini, tanah persawahan seluas 1 haktare itu, disulap menjadi destinasi wisata baru di wilayah Desa Ketapanrame, Trawas, Kabupaten Mojokerto.

Destinasi wisata tersebut diberi nama Taman Ghanjaran. Nama Taman Ghanjaran sendiri, diambil dari asal-usul sejarah sebelumnya.

“Ghanjaran diartikan oleh warga Ketapanrame untuk menyebut tanah yang dikelola atau diperuntukkan bagi perangkat desa. Kalau bahasa pemerintahan disebutnya tanah kas desa,” kata Kepala Desa Ketapanrame Zainul Arifin, Sabtu (2/2/2019).

Lebih lanjut Zainul menceritakan, ide membuat tempat wisata di Desa Ketapanrame muncul pada tahun 2016. Saat itu, dirinya dan perangkat desa lain menganggap, tunjangan gaji dari hasil persawahan yang mereka kelola di tanah ghanjaran terbilang rendah.

Mereka akhirnya mencoba mengubah fungsi tanah ghanjaran menjadi lokasi wisata. Tentunya, dengan harapan tunjangan gaji mereka mengalami kenaikan.

“Di tahun yang sama kami mencoba mengirimkan proposal ke Bupati Mojokerto atas perubahan fungsi tanah ganjaran menjadi wisata. Ternyata di setujui. Pemerintah mengucurkan dana Rp 5 miliar untuk pembangunan wisata. Namun pembangunannya baru terealisasi tahun 2018,” jelasnya.

Taman Ghanjaran resmi dibuka pada awal Desember 2018. Sejak awal peresmiannya, antusias warga maupun wisatawan dari luar Mojokerto untuk mengunjungi wisata Taman Ghanjaran cukup tinggi. Bahkan saat akhir pekan pengunjung bisa mencapai ribuan.

Baca Juga  Air Terjun Watu Ondo, Seger Banget Airnya!

Tak salah Zainul merubah fungsi tanah ghanjaran menjadi wisata. Karena hampir tak pernah sepi pengunjung, para pelapak pun berdatangan menjajakan beraneka ragam makanan dan minuman. Selain itu, pengusaha wahana taman bermain ikut tertarik untuk membuka jasa di sana.

“Tahun kemarin untuk pertanian, setahun hanya mampu menghasilkan Rp 15 juta. Dengan adanya taman ini, satu bulan bisa menghasilkan Rp 15-20 juta. Kenaikannya berlipat-lipat. Hasil Rp 15-20 juta perbulan didapat dari biaya sewa lahan untuk wahana, lapak, dan tiket masuk. Hasilnya tak serta merta untuk perangkat desa, pembagiannya, 80% untuk pengembangan modal Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) dan Barulah yang 20% untuk perangkat desa,” terangnya.

Dia menambahkan, tujuan pembangunan wisata tak hanya untuk meningkatkan tunjangan gaji perangkat desa saja. Melainkan, juga untuk membangun lapangan kerja dan mendongkrak perekonomian warga Desa Ketapanrame.

“Saat ini sebanyak 300 warga Ketapanrame bekerja dan membuka usaha kuliner di wisata Ghanjaran,” pungkasnya.

Sumber : https://surabaya-tribunnews-com.cdn.ampproject.org/v/s/surabaya.tribunnews.com/amp/2019/02/02/taman-ghanjaran-hamparan-sawah-yang-disulap-menjadi-destinasi-wisata-baru-di-mojokerto/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here